BURUH BOLA DAN SEPAK BOLA. #SAVE MAY_DAY

Makassar 01. Mey. May day.

Buruh bola dan Sepak Bola

*Pernahkah Anda melihat kuman dengan mata telanjang? Ini pertanyaan nyeleneh. Sudah barang tentu yang pernah melihat kuman dengan mata telanjang ya sesama kuman itu sendiri.

Pernahkah kita berpikir, seandainya ada makhluk raksasa yang besarnya seribu kali lipat ukuran manusia normal, masihkah ia dapat dengan mudah melihat kita yang renik dalam pandangannya?

Saya bukan hendak membicarakan tentang sudut pandang suatu subjek terhadap satu objek. Melainkan sekadar ingin berbagi tentang hierarki dalam roda perusahaan bila dilihat dari majas perumpamaan, dalam hal ini sepak bola.

Yang pertama adalah tingkat supervisor. Para supervisor adalah mata perusahaan yang langsung membawahi para lebah pekerja. Di tangannya diletakkan tugas dan tanggung jawab dalam membimbing pekerja tingkat paling bawah.

Para supervisor tahu persis seluk-beluk seksi yang dipimpinnya. Bahkan dia sangat paham dengan kondisi pekerja yang berada di bawah komandonya. Ibarat dalam sebuah pertandingan sepak bola, supervisor adalah coach yang terjun langsung mengarahkan timnya dalam memenangkan pertandingan.

Garis pandangnya horizontal, terbatas hanya pada objek yang berada dalam jangkau pandangnya saja. Namun, meski begitu, objek yang ditangkapnya sangat akurat, karena dekatnya tadi. Bahkan ia bisa tahu dengan yakin, apakah pemain di dekatnya benar-benar terjatuh atau hanya melakukan trik diving.

Tingkatan berikutnya adalah para manager. Mereka adalah orang yang ditugaskan oleh perusahaan dalam memimpin satu departemen. Biasanya mereka membawahi beberapa supervisor.

Garis pandangnya diagonal. Namun, karena posisinya cukup tinggi, sudah barang tentu jarak pandangnya lebih luas daripada supervisor. Tapi sudah barang tentu juga objek yang dilihatnya tak cukup besar untuk dinilai dengan akurat.

Seorang manager perusahaan ibarat penonton yang berada di tribun penonton bebas. Jangkauan pandangnya hanyalah sepanjang atau selebar garis lapangan.

Selanjutnya adalah level top manager yang biasanya diduduki oleh posisi General Manager dan Executive Assistant Manager. Mereka adalah pemegang kebijakan dalam perusahaan. Keputusan yang dikeluarkan adalah berdasarkan laporan yang diterima dari para manager.

Ibarat penonton sepak bola, mereka duduk di tribun VIP yang letaknya cukup tinggi untuk melihat seluruh bagian lapangan. Cara pandangnya nyaris vertikal.

Cakupan yang luas membuat mereka dapat dengan jelas melihat pertandingan live dengan mode layar penuh. Dengan jangkau pandang itu juga dia dapat jelas melihat sisi kosong dan kelemahan lain dari tim yang didukungnya. Mereka leluasa berteriak ketika gol gagal terciptakan.

Hanya tiga saja? Ya! Bila kita melihatnya secara garis besar. Sebenarnya masih ada tingkatan lagi setelah itu.

Di tingkat tertinggi ada jajaran direksi yang di dalamnya biasanya terdapat owner. Garis pandangnya tak beraturan; kadang horizontal, kadang diagonal ke atas, kadang diagonal ke bawah. Tergantung di mana pesawat televisinya diletakkan.

Mereka adalah kelompok orang-orang yang menonton sebuah pertandingan sepak bola melalui layar kaca. Mereka menyaksikan jalannya pertandingan secara runut dan jelas dengan sisipan replay dlsb.

Mereka bisa tahu jumlah tendangan sudut dan pelanggaran yang dihasilkan, bahkan mereka bisa tahu prosentase penguasaan bola dari masing-masing tim. Namun, tetap saja apa yang dapat mereka lihat hanya sebatas yang dapat ditangkap kamera.

Lantas di mana tempat para pekerja rank and file?

Merekalah para pemain yang tengah berjibaku di lapangan. Tujuan mereka hanya satu: memasukkan bola ke gawang lawan. Tak peduli untuk meraih itu mereka terkadang harus adu mulut dengan pemain lawan maupun wasit. Cedera, berdarah, bahkan mati!

#May_day
#SelamatHariBuruhInternasional
#JayalahBuruh

Sumber_#www.brilio.net

PRIMODIALISME MERUPAKAN SUATU CARA PANDANG YANG SEJAK DAHULU PARA DEWAN SENIORITAS YANG PERNAH TINGALKAN, NAMUN GENERATION MASIH MAMPU UNTUK MENGANALISIS ANDAIKAN MENGTRANDISI.

Makassar 23/032019.

Mitos Seputar Filsafat:

SEBUAH PANDANGAN DARI PARA DEWAN SENIOR ZAMAN MILENIAL MEMBANDINGKAN DENGAN CARA PANDANG PARA ILWAN KUNO!.

FOTO ASRAMA LANNY JAYA

Itu Konon/agaknya amat sulit. Hnxa orang yang mampu mempelajarinya. Bahkan, kata

orang, jangan terlalu serius belajar filsafat!

Bila otak tidak kuat, jangan2x kita bisa menjadi gila karena filsafat!

Buat apa mengambil risiko ini, padahal agaknya filsafat itu sesuatu yang abstrak, jauh dari kehidupan kita seharihari?

memang ada banyak mitos mengenai filsafat seperti itu.

Malahan mitos-mitos itu beredar tidak hanya di kalangan awam namun semua

1. Seperti oleh para agamawan punya berpandangan bahwa, memegang erat-erat kitab suci sebagai pegangan hidup sudah lebih dari cukup, sehingga filsafat yang tidak menjanjikan kebenaran-mutlak tidak diperlukan.

2. Sebagian ilmuwan mengatakan bahwa, mereka berkewajiban untuk melepaskan diri secara total dari filsafat untuk mempertahankan keilmiahan mereka.

3. Sebagian seniman merasa, filsafat tidak akan membantu kita dalam menikmati keindahan.

4. Sebagian usahawan bilang, filsafat hanya membuang waktu karena tidak akan menghasilkan laba.

Itu yg dicerikan oleh para pemikir terdahulu

Pemikir lain berusaha bertanya baik lisan dan tertulis bhw (orang yang berakal sehat bisa mempelajari filsafat dan bahkan mampu berfilsafat!)

Jdi kita bisa pastikan semua ilmu berfilsafat baik itu

  • AGAMA
  • ILMU
  • POLITIK
  • BAHASA
  • BISNIS
  • EKONOMI
  • DLL.

Editor, BoykaIrian77Tiggiwanimbo.

“Selamat berfikir Generasi kaum milenia”

TIDAK SEGAMPANG ITU JADI MAHASISWA YANG KRITIS, IDEALIS.MAKA DARI ITU KITA MAU MILIKI HAL TERSEBUT HARUS BERPROSES:

SALAM DARI MAHASISWA BUAT
ANAK KULIAH.

Makassar Tanggal, 13/03’2019 Pujama Rappocini Lrg, 9

————————————————————-

jip
Foto Budaya diskusi kunume

Diskusi Dalam lingkungan mahasiswa kita harus bisa menjadi ideal dan kritis dalam dua hal tersebut ada persaingan dan tahapan-tahapan yang harus dihadapi dan di jalani, karena jika kita tidak maju terus bagaimana nasib masa depan yang akan datang sebab ilmu yang kita dapat menentukan masa depan yang akan di hadapi nanti.

Menjadi mahasiswa yang ideal dan kritis itu tidak semudah yang kita bayangkan sebab banyak sekali tahapan-tahapann yang harus lalui. Menjadi mahasiswa yang ideal itu membutuhkan kesiapan mental sebab tidak hanya kaita yang menginginkan di posisi itu .
Dikatakan mahasiswa yang ideal yaitu mahasiswa yang mampu menguasai dalam ruang lingkup lingkungan, memahami situasi yang tengga2 terjadi, rendah hati dan tidak menyombongkan yang bukan milik kita sendiri suka membantu sesama meskipun penampilan sederhana tetap tidak menjadi masalah untuk tetap maju dan sebagai mahasiswa harus bisa membuktikan suatu hal itu menjadi sesuatu yang menakjubkan. Buat apa jika menjadi mahasiswa yang ideal tetapi tidak digunakan dengan semestinya.

Kita hidup di dunia ini mempumyai pedoman yaitu pada agama dan ilmu sebab ilmu tanpa agama itu buta sedangkan agama tanpa ilmu itu hampa ingat jangan sia-siakan yang diberikan kepada allah untuk kita meskipun porsinya berbeda-beda dan meskipun memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing itu jangan jadikan hal tersebut menjadi penghalang untuk tetap melangkah ke depan.
Dikatakan mahasiswa yang kritis bila kalian mampu memecahkan masalah sesulit apapun karena kritis bisa diartikan mendalam maksudya ada seseorang yang mempunyai masalah jika orang itu bertanya bagaimana solusinya sebelum menjawab kita harus tahu inti dari permasalahan itu supaya bisa menjawab solusi itu dengan baik dan benar agar tidak terjadi kesalah pahaman tersebut, maka dari itu jadilah mahasiswa yang ideal dan kritis sesuai kemampuan yang kita miliki.
Tunjukan kepada dunia bahwa kalia mampu menjadi mahasiswa yang lebih ideal dari mereka.

MAKA DARI ITU JADI MAHASISWA HARUS MEMBELA KEADILAN DIATAS KEBENARAN JANGALN MILIKI NAMANYA 3K, 4D. DI AKADEMISI, BAHKAN JUGA DI KALANGAN MASYARAKATA MENYUARAKAN RAKYAT KECIL KAUM PLORETAR.

#SalamdariPujama
#SalamBerfikir

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI INDONESIA DAERAH-DAERAH TERPENCIL LEBIH HKUSUSNYA PERKEMBANGGAN PENDIDIKAN DI DAERAH PAPUA.

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI INDONESIA DAERAH-DAERAH TERPENCIL LEBIH HKUSUSNYA PERKEMBANGGAN PENDIDIKAN DI DAERAH PAPUA.
  1. SalamApakabarGuru
  2. Salam Apa kabar Pemerintah Resim

Petinggi2 Negara Samapai

Pemdaerah.

Gambar Masyarakat masih Primitif di Daerah-daerah pelosok.

  • Jangan Ambil kesimpulan Secepatnya tetapi, Baca sampai selesai apa yang Anda paham tentang isi dalam buku saku Kecil ini lalu menarik kesimpulan…….

Di era globalisasi sekarang ini bangsa Indonesia masih dililit krisis di bidang pendidikan. Masih banyak hal yang perlu dikoreksi terutama oleh pemerintah sebagai salah satu fasilitator pendidikan. Pelayanan pendidikan terutama di daerah-daerah terpencil seperti di daerah luar Kota Seperti Kampung Halaman saya DI JIGONIKME pada kenyataannya masih minim padahal dana APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara)
yang dialokasikan khusus untuk pendidikan sudah 20%. Maka Dari itu,
Dalam tulisan ini, saya ingin membahas tentang permasalahan pendidikan di Negri ini,
Ada Senior saya yang melilit daerah-daerah terpencil, dampak dari berbagai masalah tersebut, serta perhatian pemerintah dalam meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di daerah terpencil bercurahan bersama kepada saya bahwasanya.

Daerah terpencil merupakan daerah yang letak teritorialnya berada jauh dari pusat pemerintahan.
Hal inilah yang selama ini menjadi kendala berbagai perhatian yang seharusnya diberikan kepada masyarakat di daerah terpencil.
Misalnya saja, pendistribusian bantuan bagi korban bencana alam di daerah terpencil memakan waktu dan proses yang lama dan berbelit-belit.
Kejadian ini biasanya disebabkan oleh medan-medan yang menjadi objek pendistribusian cukup sulit untuk dijangkau, karena alasan transportasi, komunikasi dan masalah-masalah klasik lainnya. Dengan begitu tidak jarang daerah-daerah terpencil korban bencana alam tidak terjamah bantuan dan terabaikan oleh pemerintah.
Tidak hanya dalam hal pendistribusian bantuan bencana alam, dalam pelayanan kesehatan dan pendidikan yang menjadi hak masyarakat pun, di daerah terpencil masih sering terabaikan.

Di Indonesia, pelayanan pendidikan khususnya untuk daerah-daerah terpencil masih minim. Berbagai masalah yang menghambat proses pendidikan di suatu daerah masih sering muncul.
Sarana dan prasarana menjadi salah satu hambatan utama yang merintangi berjalannya suatu proses pendidikan di daerah terpencil. Sarana dan prasarana ini meliputi gedung sekolah beserta isinya, serta peralatan-peralatan sekolah yang menunjang proses belajar mengajar di suatu sekolah, atau lembaga tempat belajar.
Sering kita lihat pembangunan gedung-gedung sekolah megah diperkotaan dengan fasilitas yang memadai untuk kegiatan belajar mengajar.
Namun hal itu akan berbanding terbalik ketika kita melihat keadaan yang sebenarnya di daerah terpencil. Tidak ada fasilitas yang cukup memadai untuk menunjang kemajuan proses belajar mengajar yang mereka lakukan.
Gubug-gubug reyot yang mereka sebut sebagai gedung sekolah tidak mampu memberikan fasilitas yang memadai sebagaimana sekolah-sekolah normal pada umumnya.

Pada kenyataannya, pembanguan fisik sekolah-sekolah di wilayah perkotaan terus menjamur seiring dengan dikeluarkannya dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) oleh pemerintah.
Sayangnya perhatian pemerintah tentang pendidikan yang disalurkan lewat dana BOS tersebut tidak begitu nyata dirasakan dampaknya oleh masyarakat atau sekolah-sekolah di daerah pedalaman atau daerah terpencil. Gembar-gembor dana BOS yang dijanjikan oleh pemerintah membahana ke seluruh pelosok negeri, namun pada kenyataannya wujud fisik dari dana BOS tersebut tidak pada sekolah-sekolah di daerah terpencil.
Hal ini terjadi biasanya disebabkan oleh masalah-masalah klasik seperti hambatan pada transportasi dan komunikasi. Selain itu hambatan dari manusianya sendiri sering menjadi salah satu alasan pendistribusian dana BOS yang tidak tersalurkan. Hambatan manusia ini dapat berupa KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme) yang dilakukan oleh aparat-aparat yang bertugas dalam pendistribusian dana BOS sehingga tidak tersampaikan kepada sekolah-sekolah di daerah terpencil sebagaimana mestinya.
Masalah inilah yang sebenarnya sulit dihindari bila dibandingkan dengan masalah transportasi dan komunikasi, mengingat budaya korupsi masih menggerogoti mental bangsa Indonesia di berbagai bidang.

Masalah yang tidak kalah menyita perhatian dalam pendidikan terutama di daerah terpencil adalah masalah kualitas guru Dan juga Pemerintah kurang Mengupayahkan Tenaga pengajar Sesuai dengan Profesionalisme Guru yang Memiliki kualitas Masih banyak pengangguran.
Tuntutan mengajar seorang guru di daerah terpencil lebih berat bila dibandingkan tuntutan guru yang mengajar di daerah perkotaan. Hambatan ini dipicu oleh masalah minimnya sarana dan prasarana penunjang proses pembelajaran di daerah terpencil.
Sehingga seringkali seorang guru di daerah terpencil memutar otak untuk memenuhi hal tersebut.
Apalagi bobot materi yang harus diajarkan harus sesusai dengan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sejak diberlakukannya UAN (Ujian Akhir Nasional) sebagai standar kelulusan bagi siswa-siswi sekolah menengah. Hal ini tentunya menambah beban mental bagi guru di pedalaman, karena selain harus memikirkan hidupnya sebagai seorang individu di daerah terpencil, seorang guru di daerah terpencil juga harus memikirkan tanggungjawabnya sebagai seorang guru.
“Namun sayangnya perhatian pemerintah kepada para guru di daerah daerah terpencil kurang.
Beban yang ditanggung oleh seorang guru di daerah terpencil tidak sebanding dengan imbalan yang didapatkan”.

Selain kurang diperhatikannya nasib guru di daerah terpencil, sistem perekrutan guru di daerah terpencil juga kurang baik. Biasanya guru yang terdapat di daerah terpencil bukanlah seseorang yang ahli di bidangnya. Seringkali guru di daerah pedalaman adalah seseorang dengan ilmu dan kemampuan mengajar yang seadanya. Hal ini biasanya disebabkan karena guru yang direkomendasikan untuk mengajar hanya lulusan sekolah menengah saja, sehingga proses pembelajaran tidak berjalan maksimum.

Selain kedua masalah pendidikan yang melilit daerah terpencil tersebut, masalah keadaan lingkungan dan kondisi masyarakat di daerah terpencil juga mempengaruhi berlangsungnya proses pendidikan di daerah terpencil.
Di daerah terpencil biasanya belum banyak adanya pembangunan seperti di daerah perkotaan, yaitu pembangunan jalan, jembatan dan lain sebagainya. Hal ini menghambat perjalanan siswa dan guru yang akan pergi dan pulang sekolah. Seorang siswa atau pendidik yang kurang sadar akan pentingnya pendidikan lama kelamaan akan menyerah dengan kondisi ini, dan terjadilah putus sekolah. Selain kendala kondisi lingkungan, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan masih kurang. Padahal kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan adalah pondasi awal yang dibutuhkan untuk membangun pendidikan dan pembangunan di daerah tersebut.
Kebanyakan dari mereka lebih memilih menginfestasikan hartanya untuk hal-hal yang menurut mereka lebih berguna bila dibandingkan dengan pendidikan. Selain itu, terkadang mereka lebih rela menikahkan anak-anak mereka di usia muda dibanding menyekolahkan mereka, karena sekolah bagi sebagian dari mereka adalah sesuatu yang hanya akan memperparah kemiskinan mereka.

Berbagai dampak dari masalah muncul seiring dengan memanasnya masalah pendidikan yang dialami oleh daerah terpencil. Dampak dari masalah-masalah tersebut antara lain, kemajuan mutu pendidikan di suatu daerah terpencil akan terhambat. Mutu pendidikan di daerah terpencil tidak akan pernah sama dengan mutu pendidikan di daerah perkotaan selama masalah-masalah pendidikan di daerah terpencil belum dapat teratasi.

Selain itu, masalah-masalah tersebut menyebabkan tertinggalnya pembangunan suatu daerah dengan daerah lainnya. Seperti yang telah disebutkan bahwa, kemajuan pendidikan di suatu daerah/negara merupakan wujud dari kemajuan pembangunan di suatu daerah/negara. Jadi suatu daerah akan baik pembangunannya bila pendidikannya maju, dan sebalikknya suatu daerah akan terpuruk pembangunnanya bila mutu pendidikannya pun terputuk. Hal ini bisa menyebabkan masyarakat di suatu daerah dipandang sebelah mata oleh masyarakat di daerah lain yang pendidikan dan pembangunanya lebih maju. Sehingga hal ini tidak baik bila terus menerus diabaikan.

Masalah-masalah pendidikan di daerah terpencil tidak baik bila diabaikan begitu saja. Dalam hal ini pemerintah seharusnya mempunyai langkah-langkah konkret untuk mengatasinya. Langkah-langkah tersebut bisa berwujud perhatian yang lebih dari pemerintah dan masyarakat, maupun pengawasan yang lebih intensif terhadap pendidikan di daerah terpencil. Wujud perhatian yang bisa diberikan oleh pemerintah kepada sekolah-sekolah di daerah terpencil adalah meningkatkan sarana dan prasarana yang masih minim, memperbaiki kualitas guru dengan memberikan suport materi dan motivasi secara personal, mengingat perjuangan seorang guru di daerah terpencil lebih berat bila dibandingkan dengan guru di daerah perkotaan. Hal ini bisa dilakuukan dengan penaikan gaji guru di daerah terpencil, serta seringnya diadakan perukaran guru antar daerah agar guru di daerah terpencil dapat termotivasi semangatnya.

Selain itu, perlu dilakukan pengawasan terhadap berbagai jenis bantuan yang akan digunakan untuk memperbaiki sarana dan prasarana, kualitas guru dan penunjang pendidikan lainnya. Hal ini bisa direalisasikan dengan semangat otonomi daerah, sehingga pengawasan pemerintah terhadap pendidikan di daerah-daerah terpencil lebih optimal.

Oleh karena itu, tidak hanya pemerintah yang harus berperan dalam memajukan pendidikan di daerah terpencil, namun peran serta dan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan dalam suatu kehidupan juga menjadi peran penting dalam memajukan pendidikan dan selanjutnya pembangunan di suatu daerah, terutama daerah terpencil.

1.Analisa permasalahan Pendidikan Layak di Daerah Terpencil

Daerah terpencil merupakan daerah yang letak teritorialnya berada jauh dari pusat pemerintahan. Di Indonesia lebih khususnya papua banyak yang Tanah papua, pelayanan pendidikan minim. Sarana dan prasarana menjadi salah satu hambatan utama yang merintangi berjalannya suatu proses pendidikan di daerah terpencil dimana perhatian pemerintah tentang pendidikan yang disalurkan lewat dana BOS tidak begitu nyata dirasakan dampaknya oleh masyarakat atau sekolah-sekolah di daerah pedalaman atau daerah terpencil. Gembar-gembor dana BOS yang dijanjikan oleh pemerintah membahana ke seluruh pelosok negeri, namun pada kenyataannya wujud fisik dari dana BOS tersebut tidak pada sekolah-sekolah di daerah terpencil. Masalah-masalah klasik seperti hambatan pada transportasi dan komunikasi. Selain itu hambatan dari manusianya sendiri sering menjadi salah satu alasan pendistribusian dana BOS yang tidak tersalurkan. KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme) yang dilakukan oleh aparat-aparat yang bertugas dalam pendistribusian dana BOS. budaya korupsi masih menggerogoti mental bangsa Indonesia di berbagai bidang. Masalah yang tidak kalah menyita perhatian dalam pendidikan terutama di daerah terpencil adalah masalah kualitas guru.

Tuntutan mengajar seorang guru di daerah terpencil lebih berat bila dibandingkan tuntutan guru yang mengajar di daerah perkotaan. Hambatan ini dipicu oleh masalah minimnya sarana dan prasarana penunjang proses pembelajaran di daerah terpencil. . Apalagi bobot materi yang harus diajarkan harus sesusai dengan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sejak diberlakukannya UAN (Ujian Akhir Nasional) sebagai standar kelulusan bagi siswa-siswi sekolah menengah. Hal ini tentunya menambah beban mental bagi guru di pedalaman, karena selain harus memikirkan hidupnya sebagai seorang individu di daerah terpencil, seorang guru di daerah terpencil juga harus memikirkan tanggung jawabnya sebagai seorang guru. Selain kurang diperhatikannya nasib guru di daerah terpencil, sistem perekrutan guru di daerah terpencil juga kurang baik. Seringkali guru di daerah pedalaman adalah seseorang dengan ilmu dan kemampuan mengajar yang seadanya. Hal ini biasanya disebabkan karena guru yang direkomendasikan untuk mengajar hanya lulusan sekolah menengah saja, sehingga proses pembelajaran tidak berjalan maksimum.

Selain kedua masalah pendidikan yang melilit daerah terpencil tersebut, masalah keadaan lingkungan dan kondisi masyarakat di daerah terpencil juga mempengaruhi berlangsungnya proses pendidikan di daerah terpencil. belum banyak adanya pembangunan seperti di daerah perkotaan, yaitu pembangunan jalan, jembatan dan lain sebagainya. Hal ini menghambat perjalanan siswa dan guru yang akan pergi dan pulang sekolah. Seorang siswa atau pendidik yang kurang sadar akan pentingnya pendidikan lama kelamaan akan menyerah dengan kondisi ini, dan terjadilah putus sekolah. kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan masih kurang. Padahal kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan adalah pondasi awal yang dibutuhkan untuk membangun pendidikan dan pembangunan di daerah tersebut. Kebanyakan dari mereka lebih memilih menginfestasikan hartanya untuk hal-hal yang menurut mereka lebih berguna bila dibandingkan dengan pendidikan. terkadang mereka lebih rela menikahkan anak-anak mereka di usia muda dibanding menyekolahkan mereka, karena sekolah bagi sebagian dari mereka adalah sesuatu yang hanya akan memperparah kemiskinan mereka.

2.Solusi permasalahan

Pemerintah harus lebih peduli terhadap pendidikan di daerah terpencil, karena semua akan berjalan dengan baik jika top manajemennya dalam hal ini pemerintah, mampu dan mau untuk lebih peduli terhadap pendidikan di daerah terpencil. Dengan kepedulian pemerintah, lalu didukung oleh semua sarana pendukung, Maka pendidikan di daerah terpencil tidak akan tertinggal dan akan lebih layak Meningkat perkembangannya.
DISISI LAIN GURU-GURU juga harus Sadar Demi untuk sebuah Daerah harus Butuh pengkhorbanan, antara lain Tenaga, waktu, pengetahuan/pikiran, Dan Tenaga.
Jangan hanya dengan Alasan yang sudah saya utarakan diatas maka kebanyakan Guru hanya Berpoya” di kota-kota besar.

3.Harapan dan hal yang akan dilakukan untuk pendidikan Indonesia

Diharapkan pendidikan di Indonesia Khususnya Daerah Terpencil Papua tidak terkotori oleh KKN, karena dengan bebas dari KKN, maka segala sesuatu akan jauh lebih lancar, baik dari pengadaan prasasrana maupun dari pengandaan tenaga pengajarnya.
Guru kuga Diharapkan Butuh Kesabaran.
Dan Tetus Bergelut dengan Buku sesuai dengan Profesinya.

#SavePemerintah
#SaveGuru
#SaveKaumPelajar
#SavePendidikan

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI INDONESIA DAERAH-DAERAH TERPENCIL LEBIH HKUSUSNYA PERKEMBANGGAN PENDIDIKAN DI DAERAH PAPUA.

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI INDONESIA DAERAH-DAERAH TERPENCIL LEBIH HKUSUSNYA PERKEMBANGGAN PENDIDIKAN DI DAERAH PAPUA.
  1. SalamApakabarGuru
  2. Salam Apa kabar Pemerintah Resim

Petinggi2 Negara Samapai

Pemdaerah.

Gambar Masyarakat masih Primitif di Daerah-daerah pelosok.

  • Jangan Ambil kesimpulan Secepatnya tetapi, Baca sampai selesai apa yang Anda paham tentang isi dalam buku saku Kecil ini lalu menarik kesimpulan…….

Di era globalisasi sekarang ini bangsa Indonesia masih dililit krisis di bidang pendidikan. Masih banyak hal yang perlu dikoreksi terutama oleh pemerintah sebagai salah satu fasilitator pendidikan. Pelayanan pendidikan terutama di daerah-daerah terpencil seperti di daerah luar Kota Seperti Kampung Halaman saya DI JIGONIKME pada kenyataannya masih minim padahal dana APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara)
yang dialokasikan khusus untuk pendidikan sudah 20%. Maka Dari itu,
Dalam tulisan ini, saya ingin membahas tentang permasalahan pendidikan di Negri ini,
Ada Senior saya yang melilit daerah-daerah terpencil, dampak dari berbagai masalah tersebut, serta perhatian pemerintah dalam meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di daerah terpencil bercurahan bersama kepada saya bahwasanya.

Daerah terpencil merupakan daerah yang letak teritorialnya berada jauh dari pusat pemerintahan.
Hal inilah yang selama ini menjadi kendala berbagai perhatian yang seharusnya diberikan kepada masyarakat di daerah terpencil.
Misalnya saja, pendistribusian bantuan bagi korban bencana alam di daerah terpencil memakan waktu dan proses yang lama dan berbelit-belit.
Kejadian ini biasanya disebabkan oleh medan-medan yang menjadi objek pendistribusian cukup sulit untuk dijangkau, karena alasan transportasi, komunikasi dan masalah-masalah klasik lainnya. Dengan begitu tidak jarang daerah-daerah terpencil korban bencana alam tidak terjamah bantuan dan terabaikan oleh pemerintah.
Tidak hanya dalam hal pendistribusian bantuan bencana alam, dalam pelayanan kesehatan dan pendidikan yang menjadi hak masyarakat pun, di daerah terpencil masih sering terabaikan.

Di Indonesia, pelayanan pendidikan khususnya untuk daerah-daerah terpencil masih minim. Berbagai masalah yang menghambat proses pendidikan di suatu daerah masih sering muncul.
Sarana dan prasarana menjadi salah satu hambatan utama yang merintangi berjalannya suatu proses pendidikan di daerah terpencil. Sarana dan prasarana ini meliputi gedung sekolah beserta isinya, serta peralatan-peralatan sekolah yang menunjang proses belajar mengajar di suatu sekolah, atau lembaga tempat belajar.
Sering kita lihat pembangunan gedung-gedung sekolah megah diperkotaan dengan fasilitas yang memadai untuk kegiatan belajar mengajar.
Namun hal itu akan berbanding terbalik ketika kita melihat keadaan yang sebenarnya di daerah terpencil. Tidak ada fasilitas yang cukup memadai untuk menunjang kemajuan proses belajar mengajar yang mereka lakukan.
Gubug-gubug reyot yang mereka sebut sebagai gedung sekolah tidak mampu memberikan fasilitas yang memadai sebagaimana sekolah-sekolah normal pada umumnya.

Pada kenyataannya, pembanguan fisik sekolah-sekolah di wilayah perkotaan terus menjamur seiring dengan dikeluarkannya dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) oleh pemerintah.
Sayangnya perhatian pemerintah tentang pendidikan yang disalurkan lewat dana BOS tersebut tidak begitu nyata dirasakan dampaknya oleh masyarakat atau sekolah-sekolah di daerah pedalaman atau daerah terpencil. Gembar-gembor dana BOS yang dijanjikan oleh pemerintah membahana ke seluruh pelosok negeri, namun pada kenyataannya wujud fisik dari dana BOS tersebut tidak pada sekolah-sekolah di daerah terpencil.
Hal ini terjadi biasanya disebabkan oleh masalah-masalah klasik seperti hambatan pada transportasi dan komunikasi. Selain itu hambatan dari manusianya sendiri sering menjadi salah satu alasan pendistribusian dana BOS yang tidak tersalurkan. Hambatan manusia ini dapat berupa KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme) yang dilakukan oleh aparat-aparat yang bertugas dalam pendistribusian dana BOS sehingga tidak tersampaikan kepada sekolah-sekolah di daerah terpencil sebagaimana mestinya.
Masalah inilah yang sebenarnya sulit dihindari bila dibandingkan dengan masalah transportasi dan komunikasi, mengingat budaya korupsi masih menggerogoti mental bangsa Indonesia di berbagai bidang.

Masalah yang tidak kalah menyita perhatian dalam pendidikan terutama di daerah terpencil adalah masalah kualitas guru Dan juga Pemerintah kurang Mengupayahkan Tenaga pengajar Sesuai dengan Profesionalisme Guru yang Memiliki kualitas Masih banyak pengangguran.
Tuntutan mengajar seorang guru di daerah terpencil lebih berat bila dibandingkan tuntutan guru yang mengajar di daerah perkotaan. Hambatan ini dipicu oleh masalah minimnya sarana dan prasarana penunjang proses pembelajaran di daerah terpencil.
Sehingga seringkali seorang guru di daerah terpencil memutar otak untuk memenuhi hal tersebut.
Apalagi bobot materi yang harus diajarkan harus sesusai dengan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sejak diberlakukannya UAN (Ujian Akhir Nasional) sebagai standar kelulusan bagi siswa-siswi sekolah menengah. Hal ini tentunya menambah beban mental bagi guru di pedalaman, karena selain harus memikirkan hidupnya sebagai seorang individu di daerah terpencil, seorang guru di daerah terpencil juga harus memikirkan tanggungjawabnya sebagai seorang guru.
“Namun sayangnya perhatian pemerintah kepada para guru di daerah daerah terpencil kurang.
Beban yang ditanggung oleh seorang guru di daerah terpencil tidak sebanding dengan imbalan yang didapatkan”.

Selain kurang diperhatikannya nasib guru di daerah terpencil, sistem perekrutan guru di daerah terpencil juga kurang baik. Biasanya guru yang terdapat di daerah terpencil bukanlah seseorang yang ahli di bidangnya. Seringkali guru di daerah pedalaman adalah seseorang dengan ilmu dan kemampuan mengajar yang seadanya. Hal ini biasanya disebabkan karena guru yang direkomendasikan untuk mengajar hanya lulusan sekolah menengah saja, sehingga proses pembelajaran tidak berjalan maksimum.

Selain kedua masalah pendidikan yang melilit daerah terpencil tersebut, masalah keadaan lingkungan dan kondisi masyarakat di daerah terpencil juga mempengaruhi berlangsungnya proses pendidikan di daerah terpencil.
Di daerah terpencil biasanya belum banyak adanya pembangunan seperti di daerah perkotaan, yaitu pembangunan jalan, jembatan dan lain sebagainya. Hal ini menghambat perjalanan siswa dan guru yang akan pergi dan pulang sekolah. Seorang siswa atau pendidik yang kurang sadar akan pentingnya pendidikan lama kelamaan akan menyerah dengan kondisi ini, dan terjadilah putus sekolah. Selain kendala kondisi lingkungan, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan masih kurang. Padahal kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan adalah pondasi awal yang dibutuhkan untuk membangun pendidikan dan pembangunan di daerah tersebut.
Kebanyakan dari mereka lebih memilih menginfestasikan hartanya untuk hal-hal yang menurut mereka lebih berguna bila dibandingkan dengan pendidikan. Selain itu, terkadang mereka lebih rela menikahkan anak-anak mereka di usia muda dibanding menyekolahkan mereka, karena sekolah bagi sebagian dari mereka adalah sesuatu yang hanya akan memperparah kemiskinan mereka.

Berbagai dampak dari masalah muncul seiring dengan memanasnya masalah pendidikan yang dialami oleh daerah terpencil. Dampak dari masalah-masalah tersebut antara lain, kemajuan mutu pendidikan di suatu daerah terpencil akan terhambat. Mutu pendidikan di daerah terpencil tidak akan pernah sama dengan mutu pendidikan di daerah perkotaan selama masalah-masalah pendidikan di daerah terpencil belum dapat teratasi.

Selain itu, masalah-masalah tersebut menyebabkan tertinggalnya pembangunan suatu daerah dengan daerah lainnya. Seperti yang telah disebutkan bahwa, kemajuan pendidikan di suatu daerah/negara merupakan wujud dari kemajuan pembangunan di suatu daerah/negara. Jadi suatu daerah akan baik pembangunannya bila pendidikannya maju, dan sebalikknya suatu daerah akan terpuruk pembangunnanya bila mutu pendidikannya pun terputuk. Hal ini bisa menyebabkan masyarakat di suatu daerah dipandang sebelah mata oleh masyarakat di daerah lain yang pendidikan dan pembangunanya lebih maju. Sehingga hal ini tidak baik bila terus menerus diabaikan.

Masalah-masalah pendidikan di daerah terpencil tidak baik bila diabaikan begitu saja. Dalam hal ini pemerintah seharusnya mempunyai langkah-langkah konkret untuk mengatasinya. Langkah-langkah tersebut bisa berwujud perhatian yang lebih dari pemerintah dan masyarakat, maupun pengawasan yang lebih intensif terhadap pendidikan di daerah terpencil. Wujud perhatian yang bisa diberikan oleh pemerintah kepada sekolah-sekolah di daerah terpencil adalah meningkatkan sarana dan prasarana yang masih minim, memperbaiki kualitas guru dengan memberikan suport materi dan motivasi secara personal, mengingat perjuangan seorang guru di daerah terpencil lebih berat bila dibandingkan dengan guru di daerah perkotaan. Hal ini bisa dilakuukan dengan penaikan gaji guru di daerah terpencil, serta seringnya diadakan perukaran guru antar daerah agar guru di daerah terpencil dapat termotivasi semangatnya.

Selain itu, perlu dilakukan pengawasan terhadap berbagai jenis bantuan yang akan digunakan untuk memperbaiki sarana dan prasarana, kualitas guru dan penunjang pendidikan lainnya. Hal ini bisa direalisasikan dengan semangat otonomi daerah, sehingga pengawasan pemerintah terhadap pendidikan di daerah-daerah terpencil lebih optimal.

Oleh karena itu, tidak hanya pemerintah yang harus berperan dalam memajukan pendidikan di daerah terpencil, namun peran serta dan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan dalam suatu kehidupan juga menjadi peran penting dalam memajukan pendidikan dan selanjutnya pembangunan di suatu daerah, terutama daerah terpencil.

1.Analisa permasalahan Pendidikan Layak di Daerah Terpencil

Daerah terpencil merupakan daerah yang letak teritorialnya berada jauh dari pusat pemerintahan. Di Indonesia lebih khususnya papua banyak yang Tanah papua, pelayanan pendidikan minim. Sarana dan prasarana menjadi salah satu hambatan utama yang merintangi berjalannya suatu proses pendidikan di daerah terpencil dimana perhatian pemerintah tentang pendidikan yang disalurkan lewat dana BOS tidak begitu nyata dirasakan dampaknya oleh masyarakat atau sekolah-sekolah di daerah pedalaman atau daerah terpencil. Gembar-gembor dana BOS yang dijanjikan oleh pemerintah membahana ke seluruh pelosok negeri, namun pada kenyataannya wujud fisik dari dana BOS tersebut tidak pada sekolah-sekolah di daerah terpencil. Masalah-masalah klasik seperti hambatan pada transportasi dan komunikasi. Selain itu hambatan dari manusianya sendiri sering menjadi salah satu alasan pendistribusian dana BOS yang tidak tersalurkan. KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme) yang dilakukan oleh aparat-aparat yang bertugas dalam pendistribusian dana BOS. budaya korupsi masih menggerogoti mental bangsa Indonesia di berbagai bidang. Masalah yang tidak kalah menyita perhatian dalam pendidikan terutama di daerah terpencil adalah masalah kualitas guru.

Tuntutan mengajar seorang guru di daerah terpencil lebih berat bila dibandingkan tuntutan guru yang mengajar di daerah perkotaan. Hambatan ini dipicu oleh masalah minimnya sarana dan prasarana penunjang proses pembelajaran di daerah terpencil. . Apalagi bobot materi yang harus diajarkan harus sesusai dengan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sejak diberlakukannya UAN (Ujian Akhir Nasional) sebagai standar kelulusan bagi siswa-siswi sekolah menengah. Hal ini tentunya menambah beban mental bagi guru di pedalaman, karena selain harus memikirkan hidupnya sebagai seorang individu di daerah terpencil, seorang guru di daerah terpencil juga harus memikirkan tanggung jawabnya sebagai seorang guru. Selain kurang diperhatikannya nasib guru di daerah terpencil, sistem perekrutan guru di daerah terpencil juga kurang baik. Seringkali guru di daerah pedalaman adalah seseorang dengan ilmu dan kemampuan mengajar yang seadanya. Hal ini biasanya disebabkan karena guru yang direkomendasikan untuk mengajar hanya lulusan sekolah menengah saja, sehingga proses pembelajaran tidak berjalan maksimum.

Selain kedua masalah pendidikan yang melilit daerah terpencil tersebut, masalah keadaan lingkungan dan kondisi masyarakat di daerah terpencil juga mempengaruhi berlangsungnya proses pendidikan di daerah terpencil. belum banyak adanya pembangunan seperti di daerah perkotaan, yaitu pembangunan jalan, jembatan dan lain sebagainya. Hal ini menghambat perjalanan siswa dan guru yang akan pergi dan pulang sekolah. Seorang siswa atau pendidik yang kurang sadar akan pentingnya pendidikan lama kelamaan akan menyerah dengan kondisi ini, dan terjadilah putus sekolah. kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan masih kurang. Padahal kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan adalah pondasi awal yang dibutuhkan untuk membangun pendidikan dan pembangunan di daerah tersebut. Kebanyakan dari mereka lebih memilih menginfestasikan hartanya untuk hal-hal yang menurut mereka lebih berguna bila dibandingkan dengan pendidikan. terkadang mereka lebih rela menikahkan anak-anak mereka di usia muda dibanding menyekolahkan mereka, karena sekolah bagi sebagian dari mereka adalah sesuatu yang hanya akan memperparah kemiskinan mereka.

2.Solusi permasalahan

Pemerintah harus lebih peduli terhadap pendidikan di daerah terpencil, karena semua akan berjalan dengan baik jika top manajemennya dalam hal ini pemerintah, mampu dan mau untuk lebih peduli terhadap pendidikan di daerah terpencil. Dengan kepedulian pemerintah, lalu didukung oleh semua sarana pendukung, Maka pendidikan di daerah terpencil tidak akan tertinggal dan akan lebih layak Meningkat perkembangannya.
DISISI LAIN GURU-GURU juga harus Sadar Demi untuk sebuah Daerah harus Butuh pengkhorbanan, antara lain Tenaga, waktu, pengetahuan/pikiran, Dan Tenaga.
Jangan hanya dengan Alasan yang sudah saya utarakan diatas maka kebanyakan Guru hanya Berpoya” di kota-kota besar.

3.Harapan dan hal yang akan dilakukan untuk pendidikan Indonesia

Diharapkan pendidikan di Indonesia Khususnya Daerah Terpencil Papua tidak terkotori oleh KKN, karena dengan bebas dari KKN, maka segala sesuatu akan jauh lebih lancar, baik dari pengadaan prasasrana maupun dari pengandaan tenaga pengajarnya.
Guru kuga Diharapkan Butuh Kesabaran.
Dan Tetus Bergelut dengan Buku sesuai dengan Profesinya.

#SavePemerintah
#SaveGuru
#SaveKaumPelajar
#SavePendidikan